Pages

Memaparkan catatan dengan label tazkirah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label tazkirah. Papar semua catatan

Jumaat, 14 Jun 2013

Nilai Seorang Wanita..

Bismillah...

Sedikit perkongsian di malam hari.Moga Allah redha(^_^)

Untuk semester ini, ada beberapa program yang ana join dan ada di antaranya berkaitan dengan wanita...

Wanita,
Sangat Indah di pandangan mata,
Sangat bernilai jika dibandingkan dengan emas permata,
Lagi cantik jika dihias dengan keindahan akhlak, keindahan budi bicara,
Wanita, fitrahnya suka dipuji, dimanjai dengan kecantikan,
dengan perhiasan emas pada dirinya,
Sudah cukup rasa dirinya menjadi perhatian, dihargai...
Tetapi jika wanita itu mampu memilih senjata buat dirinya,
Bukan senjata untuk berperang,
 tetapi senjata untuk melindungi dirinya daripada panahan2 bahaya,
Bertuahlah dia,
Moga special di pandangan Allah dan bertemu redha-Nya..

(sekadar luahan rasa, bukan pantun bukan sajak..hope sangat dapat capai) 

Continue with the point I get from the Ceramah:-

Wanita= Qurratun Ain(Penyenang Mata)

InsyaAllah, ana rasa mesti ramai dan majority sentiasa berdoa dengan doa yang berkaitan dengan qurratun ain..Cer teka doa apa.....>>>>>>

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama)
Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan:74.

InsyaAllah, doa ini sangat bagus diamalkan dari detik hari ini dan seterusnya, bagi sesiapa yang belum beramal dengannya..dengan izin Allah, mudah2an dapat pasangan yang sejuk mata memandang dan dapat keturunan yang soleh...Letakkan keyakinan pada Allah, mudah2an Allah memperkenankan doa hamba2-Nya...

---------------To be continued------------------------------------------------------------------


 







Sabtu, 29 Oktober 2011

Antara Nafsu dan Iman...

Bismillahirrahmanirrahim....


Selawat dan salam ke ats junjungan nabi Muhammad s.a.w, sahabat sahabiah, dan umat islam yg masih tegar menegakkan kalimah La Ilaha Illallah Muhammadur Rasululluh di ats muka bumi..


      Alhamdulillah masih diberi kesempatan utk menulis dlm blog nie, walo ana x istiqamah menulisnya.mudah2an masih diberi peluang dan ruang utk m'p'baiki diri dan MEMPERBETULKAN NIAT dlm menulis..InsyaAllah....


__________________________________________________________________________________
(guna bhs kdh,kami=saya, ampa=kamu/awak)

Qis:Siti, kau x nak tengok citer korea ker? Best giler...pelakon dia pun hensem n comey....
Siti:X nak lah, dulu layanla, skang dah berubah....walo kdg tertengok jugak sejam dua..huhu..
Qis:La...apsl plak ampa sedih, kira hebatla dpt tengok sejam 2 ja...
Siti: Entah, sukar nak  kukatakan padamu..hehe
Qis:Ce citer sket kat kami..Kongsila sket ilmu yang ampa ada...Jgn kedekut..(^_^)
Siti:Begini citernya, ntahlah...kami rasa bila kami tengok citer nie, banyak yang kami lalai..
       Tilawah pun kurglah jadinya, maksiat mata banyak pula...Rasa mcm kami berkhianat dengan Allah...
Qis: Berkhianat?
Siti: Maksud kami, ia menjadikan kami mengutamakan benda lain dr mengingat Allah...Ada ke tengah2 kita  
       duk tengok citer tu, kita teringat kat Allah..time tue mesti kitateruja gila kan,he..kadang2 kami ada certain  
       tmpt kami selitkan dengan baca quran time iklan-tapi time join adik kami tengok citer  kartunla...tapi rasa 
       macam x patut kami buat camtu....
Qis: kenapa?
Siti: kami teringat kata2 allah dari al-quran,jap kami amikkan terjemahan...
       Cuba ampa baca maksud ayat ni(At-Tagabun:ayat 15)
Qis: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cubaan(bagimu), dan di sisi Allah pahala     
        yang besar.
Siti: Bila kami baca ayat nie,mengingatkan kami segala nikmat yang Allah berikan hanya cubaan untuk kita 
       lebih dekat dengan-Nya, dan menguji sejauh mana kita berusaha mendekatkan kita kpd-Nya..Cuba  
       ampa baca ayat nie plak(Al-Ankabut:2,5-6)
Qis: (29:2)Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan hanya dengan 
        mengatakan,"Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?

       (29:5-6)Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu(yang 
        dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
        Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh,    
        Allah Maha Kaya(tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.

Siti: Kita akan diuji oleh Allah untuk mengetahui sejauh mana benarnya iman kita....So, my dear, back to  
       Allah and let's make Islam the way of Our Life.......InsyaAllah..Ingatlah, jihad itu bukan sekadar 
       berperang di medan peperangan, tapi perang yg lebih besar adalah PEPERANGAN MELAWAN 
      HAWA NAFSU kita sendiri.....

"Wahai orang2 yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat(nama-Nya) dengan sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."     (Al-Ahzab:41-42)
Qis:(T_T)


          -wallahua'lam-

p/s:moga faham apa yang cuba disampaikan,,maap ats segala kekurangan..
    bertanyalah untuk lebih memahami...(^_^)

                         


-mencari cinta-Nya-

Khamis, 15 September 2011

MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH




Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah 35)



Dalam surat Al Maidah ayat 35 di atas Allah memerintahkan kepada orang yang beriman agarbertakwa pada-Nya dan mencari jalan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Menjadi kekasih Allah dan mendapat tempat yang mulia dan terhormat disisi-Nya adalah cita cita setiap orang yang ber-Iman. Betapa tidak… setiap orang didunia ini selalu berlomba lomba untuk merebut simpati dan tempat terhormat disisi pemimpin tertingginya masing masing, apakah itu bapak Direktur, Manager, Kepala divisi, Gubernur, Menteri, Presiden dan lain sebagainya. Mereka berlomba-lomba merebut simpati dan kedudukan dekat pimpinannya masing masing dengan harapan akan mendapat berbagai fasilitas dan kehormatan dari pimpinannya tersebut.
Jika kebanyakan manusia berebut dan berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati dan tempat yang mulia disisi pemimpinnya masing masing, maka orang yang ber-Iman berlomba-lomba untuk merebut simpati dan tempat yang mulia disisi Allah penguasa tertinggi dialam semesta ini. Allah telah menetapkan prosedur dan cara tertentu untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kegiatan sholat, dzikir, mengerjakan amal sholeh, menjauhi larangan-Nya, mencegah diri dan orang lain dari perbuatan maksiat adalah cara yang diridhoi Allah untuk mendapat posisi terhormat disisi-Nya. Orang yang telah mendapat pengakuan dari Allah dan mendapat tempat terhormat disisi-Nya akan mendapat fasilitas dan berbagai kemudahan dari Allah dalam segala hal.
Manusia tidak akan bisa mendekatkan diri pada Allah dengan jasadnya, karena jasad manusia sangat lemah dan akan hancur binasa dimakan zaman (usia). Manusia hanya bisa mendekatkan diri pada Allah dengan Ruhnya, karena Ruh bersifat abadi, kekal tidak akan musnah dan hancur dimakan zaman (usia). Bagi orang yang ingin mendekatkan diri pada Allah, harus betul betul memperhatikan perawatan Ruhnya. Hanya Ruh yang suci dan bersih yang dapat berjumpa dan bertemu dengan Allah didunia maupun diakhirat. Orang yang yakin akan bertemu dengan Allah, maka ia akan menemui-Nya, perhatikan firman Allah dalam surat al Ankabut ayat 5:
Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah,
maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Ankabut 5)

Pertemuan dengan Allah

Apa mungkin kita bertemu Allah ketika masih hidup didunia ini ? Kita memang tidak mungkin bertemu Allah didunia ini secara fisik, karena jasad kita memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Jasad yang lemah bergelimang dosa tidak mungkin bertemu dengan Allah, ia akan hancur binasa berhadapan denga Nur Ilahi.
Nabi Musa pernah memohon untuk bertemu Allah secara fisik, namun jasadnya tidak mampu menyaksikan kedahsyatan dan keagungan Allah hingga ia jatuh pinsan hal tersebut dikisahkan dalam Al Qur’an surat Al A’raaf 143 :

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al A’raaf 143)

Umat Nabi Musa yaitu Kaum Bani Isra’il juga pernah meminta hal yang sama untuk menyaksikan kedahsyatan Allah secara fisik, mereka semua tewas disambar petir yang muncul dari kedahsyatan Allah yang perkasa, hal tersebut juga dikisahkan dalam al Qur’an surat Al Baqarah ayat 55-56 :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. ( Al Baqarah 55-56)

Dengan kemampuan jasad kita yang sangat terbatas ini kita tidak mungkin dapat bertemu dan memandang Allah dengan mata fisik kita selama hidup didunia ini, padahal Allah sangat dekat dengan kita. Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri, ia berada bersama kita dimanapun kita berada. Namun jangan pernah berharap dapat melihat Dia dengan mata jasmani ini. Kita tidak akan pernah mampu melihat-Nya dengan mata fisik sebagaimana disebutkan Allah dalam firmannya pada surat Al An Aam 103
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An Aam 103)
Hanya Ruh kita yang mampu melihat dan berkomunikasi dengan-Nya secara nyata didunia maupun diakhirat. Karena Ruh adalah mahluk energy yang kekal, abadi, tidak akan pernah hancur dan musnah. Allah menyiapkannya untuk mampu hidup dialam Ruh, alam Dunia, alam Barzakh, padang Mahsyar serta alam Syurga atau Neraka kelak.
Manusia terdiri atas unsur Ruh yang abadi dan jasad yang tidak abadi (kekal). Ketika jasad telah mati hancur dan binasa Ruh tetap hidup dialam Barzakh. Sebagaimana disebutkan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 154:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu h idup, tetapi kamu tidak menyadarinya.(Al Baqarah 154)

Namun sayang kebanyakan manusia selama hidup didunia kurang memperhatikan perawatan dan kebutuhan Ruhnya yang akan hidup kekal abadi selamanya didunia dan akhirat. Mereka lebih banyak memperhatikan kebutuhan dan perawatan jasmaninya yang bersifat sementara dan hanya digunakan didunia ini saja, padahal jasmani tersebut sudah tidak berguna lagi setelah datangnya kematian.
Ruh yang sehat, selalu berdzikir mengingat Allah, dapat berkomunikasi dan memandang wajah Allah dengan segala keagungan dan kedahsyatan-Nya selama hidup didunia maupun akhirat. Ruh yang lemah, penyakitan, begelimang dosa dan kemaksiatan, tidak pernah berzikir mengingat Allah, tidak akan mampu berkomunikasi dan memandang kedahsyatan Allah selama hidup didunia dan akhirat. Ruh yang lemah bergelimang dosa dan kemaksiatan adalah tawanan syetan, hatinya tertutup dari berkomunikasi dan memandang kebesaran Allah oleh siasat dan tipu daya syetan yang sangat licik.

Bebaskan diri dari ikatan dunia
Barang siapa yang ingin memandang wajah Allah, mampu berkomunikasi dan selalu berada didekat-Nya selama hidup didunia dan akhirat, laksanakanlah semua perintah-Nya dan jauhi semua larangan-Nya. Laksanakan apa yang telah diikrarkan dalam sholat yaitu ayat 5 surat Al-Fatihah ” Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin”. Sadari bahwa anda adalah mahluk Ruh yang hidup kekal dan abadi, bebaskan diri anda dari keterikatan dengan kehidupan dunia yang tidak kekal, bersifat sementara dan akan lenyap dimakan zaman (usia). Sadari bahwa kehidupan dunia ini hanya bagian kecil dari perjalanan hidup anda yang panjang dan tidak ada batas akhirnya (unlimited). Dunia adalah tempat menyiapkan perbekalan untuk kehidupan abadi yang tidak pernah berakhir. Jangan anda tertipu oleh bujuk rayu syetan, hingga anda hanya fokus pada kehidupan dunia, tidak peduli dengan Ruh anda yang membutuhkan perawatan dan persiapan bekal untuk menempuh perjalan panjang didunia maupun akhirat.

Kita sudah merasakan betapa rumit dan beratnya perjalanan hidup didunia. Dunia adalah tempat mendewasakan Ruh, dunia adalah tempat menggembleng Ruh untuk menjadi mahluk yang tangguh, kuat dan siap untuk menghadapi berbagai kesulitan dalam perjalanan hidup yang masih panjang. Ruh yang mampu berkomunikasi dan selalu merasakan kedekatan dengan Allah, memiliki kemampuan dan ketangguhan yang prima dalam menghadapi berbagai kesulitan yang dihadapi selama hidup didunia, dialam Barzakh, padang Mahsyar dan lembah Neraka kelak.

Bagaimanapun usaha setiap orang untuk mendapatkan posisi terhormat disisi Allah tidak bisa dicapai dengan mudah begitu saja, butuh perjuangan yang ulet dan gigih. Allah akan menguji setiap orang yang berusaha mendekatkan diri pada-Nya dengan kejadian baik dan buruk. Godaan kesenangan hidup dunia dan tipu daya syetan yang licik selalu berusaha memisahkan seseorang dengan Allah secara kontinu dan terus menerus, sepanjang tarikan napasnya. Selama itu pula manusia harus melawan godaan dunia dan bisikan syetan itu.

Barang siapa yang ingin merasakan kedekatan dengan Allah, harus mampu membebaskan diri dari keterikatan dengan keinginan dunia yang berlebih lebihan. Dunia hanya bagian kecil dari perjalan hidup anda, namun sangat berpengaruh bagi kehidupan anda yang kekal abadi dan tidak pernah berakhir. Jika anda terpuruk dalam perbuatan maksiat, dosa dan durhaka pada Allah selama hidup didunia, maka tamatlah karir anda untuk menempuh perjalan hidup selanjutnya dialam akhirat yang abadi. Dengan menyadari posisi anda sebagai mahluk Ruh yang hidup kekal dan abadi, anda akan mampu menghadapi godaan dunia dengan arif. Orang yang tidak menyadari dirinya sebagai mahluk Ruh yang kekal dan abadi, dan beranggapan bahwa hidup hanyalah kehidupan didunia ini saja dan semuanya akan berakhir dengan datangnya kematian, tidak akan mampu menghadapi godaan duniawi. Hidupnya hanya tertuju pada kepentingan dunia, ia tidak peduli dengan kehidupan akhirat, orang seperti ini tidak akan mampu berkomunikasi dengan Allah, dan tidak akan mungkin mendapat tempat terhormat disisi Allah yang Maha Agung.

Mencari jalan untuk mendekatkan diri pada Allah
Dalam surat Al Maidah ayat 35 diatas Allah mengingatkan agar kita masing-masing selalu bertakwa dan mencari jalan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Berwasilah bukan berarti mencari jalan untuk mendekatkan diri pada Allah dengan perantaraan keramat, arwah leluhur, para kyai, ulama atau perantara lainnya. Dekatkanlah diri pada Allah dengan mengerjakan ibadah dan amal saleh yang diridhoi Allah. Beberapa usaha yang dapat mendekatkan diri pada Allah antara lain:

·         Sholat sunah disamping sholat wajib, siang maupun malam hari
·         Rutin membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
·         Dzikir dan tasbih mengagungkan nama Allah diwaktu pagi, sore ataupun malam hari
·         Berbuat baik kepada semua mahluk Allah
·         Selalu bersyukur dengan pemberian Allah
·         Berpuasa sunah diluar puasa Ramadhan
·         Berusaha membebaskan diri dari kecintaan pada kehidupan dunia
·         Sabar dan ridho atas berbagai musibah dan cobaan yang datang menghampiri
·         Menjauhkan diri dari sifat tercela seperti sombong, ria, ujub, iri, dengki, dendam dll
·         Menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah seperti zina, judi, mabuk, khianat dll


Insya Allah jika semua hal diatas dikerjakan semata mata karena mengharap ridho dan kedekatan dengan-Nya, Allah akan menempatkan anda pada posisi “Al-Muqarrobun” yaitu orang yang dekat dan mendapat posisi mulia disisi Allah…… Amiiin…


Selasa, 23 Ogos 2011

Muhasabah Ramadhan


Assalamualaikum,


untuk entry kali ini ana cuma sempat copy n paste dari salah satu pembacaan ana sbb ana kurang sihat,,, Selamat Membaca!!
Selamat meniti 10 Ramadhan terakhir..

http://back2fitrah.blogspot.com/2010/08/uni-ramadhan-muhasabah-ramadhan-2.html#more

Perkongsian: Muhasabah Ramadhan

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Andai ku tahu ini Ramadhanku yang terakhir. . .
~pic by fc05 of deviantart

Malam itu sepi. Angin semilir mengalus-alus lembut mukaku, menyapa sanubari. Bulan mengambang penuh, memberi petanda, separuh masa pertama Ramadhan telah melabuhkan tirainya. (nak berpuitis sikit.. hehe)

Masa terasa berlalu begitu pantas. Sama ada kita hayati atau tidak, kita telah pun masuk fasa separuh masa kedua Ramadhan.

Bagaimana dengan hari-hari Ramadhan kita yang telah berlalu?

Sudahkah kita isinya dengan sebaiknya?

Mari sama-sama kita memuhasabah diri sejenak. Perhatikan apa yang telah kita lakukan dalam 15 hari Ramadhan yang telah berlalu. Ramadhan itu hakikatnya hadiah. 29 atau 30 hari yang sedang kita jalani ini merupakan satu pemberian dariNya, lebih-lebih lagi bagi mereka yang beriman, Ramadhan ini adalah satu nikmat yang besar. Ia perlu dihayati, perlu dirasai.

Justeru, sudahkah kita 'lakukan' syukur akan nikmat yang diperolehi ini?

Dan cukupkah syukur yang telah kita laksanakan?

Mari sama-sama kita introspeksi diri.

Pejam mata anda.

Fikirkan, apa yang telah anda lakukan pada hari-hari Ramadhan yang lepas. Dan kemudian, bagaimana pula perancangan anda bagi menggunakan hari-hari Ramadhan yang berbaki.

Pejam mata anda.. Pejam..

Pejam.

Mari muhasabah.

1..  2..  3..  4..  5.. 6.. 7.. 8.. 9..  10..

11.. 12.. 13.. 14.. 15.. 16.. 17.. 18.. 19.. 20


Bagaimana, ada mendapat inspirasi?

Masih ada tak ruang-ruang yang boleh diperbaiki?

Sudah nampak dengan JELAS, bagaimana diri mahu merebut peluang hari-hari Ramadhan yang berbaki?



Tiga Golongan

Jika dilihat secara mudah, kita dapat bahagikan kepada 3 jenis golongan manusia, akan bagaimana mereka mengharungi Bulan Ramadhan ini.

Di manakah kita?

Mari sama-sama kita lihat.


1. Golongan pertama = Golongan 'Adat'

Majoriti masyarakat kita boleh dikatakan berada dalam lingkungan ini. Bagaimana jika kita perhatikan, masjid-masjid yang pada awal Ramadhannya penuh, sehingga hampir melimpah ruah, semakin lama, semakin sepi berkurangan orang. Di situ kita dapat melihat dengan jelas golongan pertama ini. Ramadhan hanya ternampak sebagai adat bagi mereka.

Ketika orang puasa, mereka pun turut sama puasa. (mungkin aurat masih belum sempurna ditutup, sedangkan tutup aurat dengan sempurna pun wajib, sama seperti puasa!)
Ketika orang mem'borong' di Bazir Ramadhan, mereka pun turut sama memborong.
Ketika orang bertarawih, mereka turut bertarawih.
Dan apabila orang ramai mula masuk 'mood' raya, mereka turut sama melayani mood raya.

Sikap-sikap mereka inilah yang kemudiannya bakal menghasilkan masjid-masjid yang mula kelihatan lengang dan sepi, sejajar dengan hari-hari Ramadhan yang kian habis. Bahkan mungkin, kesepian masjid itu akan di'imarah'kan pula dengan bunyi-bunyian mercun dan meriam api.

Inilah golongan adat. Gologan yang menganggap ibadah hanya sekadar ikut-ikutan atau adat. Adakah kita tergolong di dalamnya?


2. Golongan kedua = Golongan 'Rutin'

Terdapat juga manusia yang akan berada dalam golongan kedua ini, yakni golongan rutin. Bagi mereka pula, prestasi ibadah mereka pada bulan Ramadhan daripada awal, pertengahan, dan sehingga menuju ke akhirnya maintain. Mereka istiqamah. Alhamdulillah.

Cumanya, ibadat yang mereka laksanakan sudah dijadikan rutin. Tiada penurunan dari segi prestasi, dan juga tiada peningkatan, baik dari segi kualiti dan kuantiti. Zuq (penghayatan) mereka juga kurang, atas sebab ibadat yang mereka lakukan hanyalah atas sebab memenuhi rutin seharian mereka. Kurang khusyu'.

Malah, salah satu kerugian besar lain bagi golongan ini adalah mereka tidak mengambil kesempatan 10 malam terakhir yang bakal menjelang dengan sebaiknya. Prestasi mereka tidak berubah.

Sememangnya golongan ini jauh lebih baik daripada golongan pertama, tidak dapat dinafikan. Namun mereka ini masih dianggap rugi, kerana kesempatan Ramadhan yang ada tidak mereka pergunakan dengan sepenuhnya.

Inilah golongan rutin, golongan ini mewakili golongan kedua terbesar di kalangan masyarakat kita. Ibadah telah dianggap sebagai rutin harian mereka sahaja.

Adakah ciri-ciri golongan rutin ini ada pada kita?


3. Golongan ketiga = Golongan 'Ghuraba'

Dan akhir sekali, golongan ketiga, golongan dagang/pelik, atau sebagaimana dalam hadis Nabi disebut sebagai ghuraba'. Kenapa mereka dikatakan pelik?

Mereka inilah golongan yang akan menghidupkan masjid, di saat ramai orang ramai sibuk bersiap-siap untuk raya.

Mereka inilah golongan yang khusyu' dan larut dalam bacaan kalamullah, di kala masyarakat sedang asyik mendengdangkan lagu raya yang bakal menjelang tiba.

Mereka inilah golongan yang tetap bersengkang mata demi menghidupkan malam-malan Ramadhan, di ketika manusia yang lain sedang asyik dibuai lena.

Momentum ibadah mereka ini tidak menurun, bahkan meningkat. Bangun malam (qiamullail) mereka semakin konsisten apabila fasa terakhir Ramadhan makin menghampir. Mereka mahu memastikan tidak ada satu malam pun dari malam-malam sepuluh terakhir yang tidak mereka hidupkan dengan khusyu' dan sebaiknya, kerana dikhuatiri andai malam yang tertinggal itulah 'Lailatul Qadr'. Suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Jika tidak, mereka akan merasakan kerugian yang teramat.

Mereka inilah golongan ghuraba'! Golongan yang dianggap pelik, dan menentang arus semasa masyarakat kita. Dan sesungguhnya golongan 'ghuraba' inilah golongan yang beruntung.

Bagaimana? Adakah kita layak untuk tergolong dalam golongan ini?

Mari sama-sama kita muhasabah. Dan bertindak dengan menggunakan Ramadhan yang berbaki ini dengan sebaik-baiknya.



Penutup: Andai ini Ramadhanku yang terakhir. . .

Kita tidak tahu sama ada kita masih diketemukan semula dengan Ramadhan pada tahun akan datang atau tidak. Ya, kita memang tidak tahu. Hari-hari esok masih tiada yang pasti bagi kita. Justeru itu, ayuh kita mempergunakan saki-baki Ramadhan yang ada dengan sepenuhnya.

Bahkan, kita turut digalakkan untuk mencari malam 'Laitul Qadr' di 10 malam Ramadhan yang terakhir nanti.

Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (83 tahun ++) !!! Tidakkah kita mahu merebutnya?

Dan mengikut apa yang dicontohkan Nabi Muhammad s.a.w., malam-malam sepuluh terakhir ini, baginda mempergiatkan lagi ibadah-ibadah yang baginda lakukan. Rasulullah s.a.w. menghidupkan malam-malamnya dengan lebih bersungguh-sungguh.

Dalam sebuah hadis...

Dari Aisyah  radhiallahu  'anha, katanya,
" Rasulullah  s.a.w.  itu  apabila telah masuk  sepuluh  hari  yang terakhir dari  bulan Ramadhan, maka  beliau menghidup-hidupkan  malamnya  (yakni  melakukan  ibadat pada  malam harinya  itu),  juga  membangunkan  isterinya,  bersungguh-sungguh dalam ibadat dan mengeraskan  ikat pinggangnya (maksudnya adalah  sebagai kata kinayah (kiasan) menjauhi berkumpul dengan isterinya.)"
[Muttafaq 'alaih]

Dalam hadis lain pula, dari Aisyah  radhiallahu  'anha,  katanya,
" Rasulullah  s.a.w.  itu bersungguh-sungguh  dalam  beribadat  dalam  bulan  Ramadhan  yang  tidak demikian bersungguh-sungguhnya  kalau  dibandingkan  dengan  bulan lainnya,  juga  di dalam  sepuluh  hari  terakhir dari  bulan Ramadhan  itu  beliau s.a.w.  bersungguh-sungguh  pula  yang  tidak  demikian  bersungguh-sungguhnya kalau dibandingkan  dengan hari-hari Ramadhan yang lainnya."
[Riwayat Muslim]

Jom, jom. Tingkatkan ibadah, tingkatkan amalan. Jom!

Dan andaikata ini Ramadhan terakhir buat kita, biarlah hari-hari yang kita lalui di dalamnya ini penuh terisi, penuh bermakna.

Selasa, 16 Ogos 2011

Di penantian ini akhirnya kutempuhi kini..

Bismillahirahmanirrahim.....
      
Alhamdulillah segala pujian bagi Allah dengan limpah dan rahmat-Nya, kutemui Ramadhan..teringatku akn doa yg sering didoakan Rasululluh s.a.w menunggu tibanya Ramadhan..baghlina ramadhan,ya allah...


   Terasa cepat masa berlalu,sekarang sudah hari ke 17 kita berpuasa(17 Ramadhan)...Kini, ku sedang menghitung derik2 berlalunya Ramadhan..Mudah2an ana dan sahabat tidak mempersiakan kedatangan Ramadhan kali ini.. 


   Teringat juga ana iklan JAKIM TV1,maaf ana x igt nama ustaz tu, tapi dia berpesan supaya kita membuat AKUJANJI: Ramadhan kali ini Ramadhan terbaik....Malu ana untuk berbicara,memang x layak...Moga hati dan diri ini turut berbuat apabila mengingatkan orang lain..


    Buat sahabat, mungkin kita telah hidup 20 tahun, 18 tahun,40 tahun, atau _ tahun...Namun, adakah Ramadhan yg berlalu benar-benar terbaik bagi kita? Bagaimana pula dengan penantian lailatulqadr??Lenakah kita atau berjaga malam untuk mencari redha-Nya???


Ya Allah, letakkan kami antara orang2 yang dekat dengan-Mu,
tunjukkan kami jalan2 yg menyampaikan cinta-Mu,
Iaitu jalan-jalan yg Engkau redhai, dan bukan jalan yg Engkau murkai,
Maafkan kekhilafan kami,
Yang lebih suka berbuang masa dari membaca Kalam-Mu,
Menyiakan kelebihan Ramadhan, 
Lalai mengingati-Mu,
Dan asyik menuruti kemahuan hawa,
Dari menuruti perintah dan larangan-Mu...
Ampunkan kami...
...amin, ya Rab...


Teringat ana akan kalam Allah:

        "........Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal 
kenikmatan hidup di dunia in(dibandingkan dgn kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit."
                                                                                               (At-Taubah:38)
        " Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari(keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, syurgalah tempat tinggalnya."
                                                                                              (An-Nazi'at:37-41) 

p/s:Yang berlalu, biarlah berlalu..Dan gunakan saki-baki Ramadhan dgn terbaik..Moga bertemu redha-nya.
    :Moga hari ini lebih baik dari semalam.

 "Yang demikian itu kerana sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang diberikan kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
                                                                                              (Al-Anfal: 53)



        KITA MAMPU      
         MENGUBAHNYA!!!


-mencari cinta dan redha-Nya-





Ahad, 24 Julai 2011

Kumenantikanmu....

Bismillahirrahmanirrahim....





Firman Allah s.w.t yang bermaksud:


            "Wahai orang- orang yang beriman!Telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sepertimana diwajibkan 
          ke atas orang-orang yang sebelum daripada kamu. Mudah-mudahan kamu akan bertaqwa."
                                                                                           (Al-Baqarah:183)

Ramadhan kian menjelma, namun, apakah kita bersedia bertemu dengannya??



PREPARE FOR IT!!!


Let's us make a target to achieve in this Ramadhan Al- Mubarak..


Target :
How many 'juzuk' of Al-Quran we read per week in the month of Ramadhan??


Do we 'istighfar' every day?


Do we 'selawat' every day?


Do we 'qiam' today?


Do we really fasting today in real words???





Make a target, and do it!!insyaAllah...may Allah give us the strength!!
_______________________________________________________________

Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, bukan juga sekadar penunggu sehingga berbukanya 
puasa..Kita orang camtue ker?? Kerana Ramadhan turut menguji iman dan taqwa, menahan maksiat mata, maksiat hati, maksiat.....Boleh ker??Sanggup??Nak buat perubahan pada Ramadhan ini??


Bagiku, Ramadhan memang benar2 menguji iman...tambah2 buat sapa2 yang berpuasa di rumah cuti ni....For the first time berpuasa penuh setelah 5 tahun berpuasa di sekolah..
Ramadhan ini, perbaikilah dengan terbaik demi mencari redha-Nya..

Ramadhan,
dilimpahi seribu rahmat,
Syaitan turut diikat dan dibelenggu,
So, tinggallah nafsu yang telah berada dalam diri,
yang telah di'train' oleh syaitan sejak 8 bulan lalu,
Dari Muharam hingga Syaa'ban ini..
Adakah ia memungkinkan kita memenangi perlawanan ini??
We decide it!!

Perangilah nafsu!!!
Jihad fi sabilillah....





-mencari cinta-Nya-

Rabu, 13 Julai 2011

Dia yang tiada siapa2 punya Allah di sisi.

Bismillah,

Kali ini ana amik pengisian dari Hilal Asyraf..Moga kita dapat berkongsi sebanyak ilmu dgn Akh Hilal..Lagipun ana x seterrer Akh Hilal bab penulisan...

Starting.....(baca bismillah noh)


Kesedaran adalah antara perkara terpenting dalam kehidupan manusia.


Kesedaran, kewarasan, adalah apa yang akan mampu mengeluarkan manusia dari sebarang permasalahan. Daripada kesedaran akan datangnya ketenangan dan kekuatan.


Namun, tidak ramai manusia yang mampu mengekalkan kesedaran dan kewarasannya. Apatah lagi apabila gelombang mehnah dan tribulasi tidak henti-henti menghempasnya. Sampai satu saat, kesedaran dan kewarasan itu hilang, dan jatuhlah dia ke satu tempat yang rendah lagi hina. Tersesat dalam perjalanannya di atas dunia.


Tetapi wujud di dalam dunia ini, manusia yang dilambung mehnah dan tribulasi, namun kekal bertahan dan bertenang. Dia berjaya mengekalkan kesedaran dan kewarasannya.


Apakah rahsia mereka?


Rahsia mereka adalah, mereka menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka.




Pegangan terutuh


Mereka yang menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka, akan mempunyai pegangan terutuh, terkukuh. Hal ini kerana, pergantungan kepada Allah SWT mempunyai beberapa ciri pengekal ketenangan yang ampuh.


Berikut ciri-cirinya.


1 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Tidak Menzalimi Hamba-hambaNya.


Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, keyakinan bahawa Allah tidak menzalimi hamba-hambaNya akan membuatkan hamba-hambaNya tabah melalui ujian dan cabaran, walau seberat mana pun ujian tersebut. Kerana mereka tahu, ujian dan cabaran itu, bukan tanda Allah sedang menzalimi mereka, bahkan ujian dan cabaran itu dipandang sebagai catalyst(pemangkin) agar diri mereka menjadi hamba Allah SWT yang lebih baik. Kepercayaan ini membawa kepada kepercayaan – Apa-apa sahaja yang Allah beri itu adalah baik, walaupun nampak buruk buat kita.


“Dan tidaklah Allah itu mengkehendaki (untuk berlaku) zalim kepada hamba-hambaNya.” Surah Ghaafir ayat 31.


Daripada Abu Zar al-Ghifaari r.a, daripada Rasulullah s.a.w berdasarkan apa yang diriwayatkannya daripada Tuhannya yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi bahawasanya Ia berfirman : “Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan ke atas diri-Ku kezaliman…” Hadith Riwayat Muslim. Boleh didapati sebagai Hadith yang ke-24 di dalam Hadith 40 Karangan Imam An-Nawawi.


Nyatanya, ketenangan akan terus kekal apabila mempunyai kefahaman begini.


2 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Tidak Memungkiri JanjiNya.


Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, mereka percaya bahawa Allah itu Tidak Memungkiri JanjiNya. Allah SWT sudah berjanji bahawa kebaikan itu akan dibalas, walau sebesar zarah. Kejahatan itu akan dibalas walau sebesar zarah. Allah berjanji akan memberikan bantuan dan kemenangan. Dan Allah berjanji, tidak akan memungkiri janji-janjiNya ini.


“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” Surah Az-Zumar ayat 20.


Maka bagi yang percaya, dugaan dan cabaran akan dilalui dengan sabar dan tabah, menanti Allah SWT menunaikan janji-janjiNya. Dengan itu, ketenangan itu kekal.


3 – Wujud dalam kepercayaan kepada Allah bahawa Allah itu Amat Dekat Dengan Hamba-hambaNya.


Jelas bahawa, bagi yang mempunyai hubungan yang erat dengan Allah SWT, mereka percaya bahawa Allah itu Amat Dekat dengan hamba-hambaNya. Justeru, mereka rasa kuat dan cekal dengan kepercayaan ini. Mereka tahu bahawa mereka tidak bersendiri. Mereka tahu bahawa Allah sedang menilai mereka. Mereka tahu Allah SWT sentiasa bersama mereka. Maka apakah mereka hendak meninggalkan Allah SWT dengan berputus asa?


“Adakah patut kamu menyangka bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum sampai kepada kamu (ujian dan cubaan) seperti yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu daripada kamu? Mereka telah ditimpa kepapaan (kemusnahan hartabenda) dan serangan penyakit, serta digoncangkan (oleh ancaman bahaya musuh), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman yang ada bersamanya: Bilakah (datangnya) pertolongan Allah? Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat (asalkan kamu bersabar dan berpegang teguh kepada ugama Allah).” Surah Al-Baqarah ayat 214.


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” Surah Al Baqarah ayat 186


“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya.” Surah Al Qaaf ayat 16


Ini juga mengekalkan ketenangan dan kewarasan. Lantas cabaran dan dugaan itu dilalui dengan tabah dan penuh kecekalan.


Dan banyak lagi sebenarnya. Namun tiga ciri ini adalah yang terutama, yang menyebabkan mereka yang menghadirkan Allah SWT dalam kehidupan mereka, kekal bertenang walaupun dalam kepayahan yang dilalui oleh mereka.


Tidak mahu percaya? Lihatlah mereka.


Kita mempunyai contoh-contoh yang sudah dipahatkan di dalam sejarah, untuk kita contohi dan ambil pengajaran.


Kisah 1


Lihatlah Rasulullah SAW, semasa peristiwa hijrah, saat baginda bersembunyi di dalam gua dan hampir ditemui. Abu Bakr RA ketika ini ketakutan dan gelabah, risau ditemui. Tetapi apakah sabda Rasulullah SAW ketika itu?


“Wahai Abu Bakr, apakah pandangan engkau sekiranya kita berdua ini, dan Allah adalah yang ketiganya?”


Terus sahaja kegusaran di dalam jiwa Abu Bakr itu lenyap. Dan lihatlah bagaimana tenangnya Rasulullah SAW. Kerana apa? Kerana baginda menghadirkan Allah SWT dalam kehidupannya.


Kisah 2


Ketika Musa AS terhimpit antara laut dan tentera Firaun yang mengejar dia dan Bani Israel yang dipimpinnya, dia kekal bertenang. Walaupun pada saat itu Bani Israel kucar-kacir ketakutan, bahkan ada yang mencadangkan agar mereka menyerah diri kepada Firaun.


“Setelah kedua-dua kumpulan itu nampak satu sama lain, berkatalah orang-orang Nabi Musa: Sesungguhnya kita akan dapat ditawan.” Surah Asy-Syu’araa’ ayat 61.


Tetapi apakah kata-kata Musa AS pada ketika itu?


“Sesekali tidak, sesungguhnya aku bersama Rabbku yang memberikan petunjuk.” Surah Asy-Syu’araa’ ayat 62.


Kisah 3


Ketika Yusuf AS dihimpit oleh imra’ah aziz(yang sering kita kenali sebagai Zulaikha), yang ingin menggodanya untuk melakukan hubungan terlarang, Yusuf AS kekal bertenang dan tidak jatuh kewarasannya. Dia tidak pula menerkam Zulaikha mengikut nafsunya.


“Dan perempuan yang Yusuf tinggal di rumahnya, bersungguh-sungguh memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya, dan perempuan itupun menutup pintu-pintu serta berkata: Marilah ke mari, aku bersedia untukmu. Yusuf menjawab: Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu); sesungguhnya Tuhanku telah memuliharaku dengan sebaik-baiknya; sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan Berjaya.” Surah Yusuf ayat 23.


Dan apabila dia dipenjara, akibat tidak mahu mengikuti nafsu Zulaikha, dia berkata:


“Yusuf (merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata: Wahai Tuhanku! Aku lebih suka kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan cenderung kepada mereka, dan aku menjadi dari orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya.” Surah Yusuf ayat 33.


Nyatanya, terserlah ketenangannya itu. Langsung kewarasannya tidak hilang dengan ujian-ujian tersebut.


Sebab itu, hubungan dengan Allah SWT adalah kunci kepada ketenangan dan kewarasan, dalam menghasilkan kecekalan dan ketabahan merentas masalah kehidupan.


Namun permasalahan utamanya adalah…


Namun hari ini, Allah SWT itu tidak kita hadirkan dalam kehidupan kita. Kita sekadar beriman di atas kad pengenalan semata-mata. Ramainya sekadar memagarkan hubungan dengan Allah SWT di dalam masjid, dan saat-saat kemalangan, juga apabila berlaku kematian.


Inilah yang membuatkan manusia, kehilangan kewarasan diri apabila dilambung badai mehnah dan tribulasi. Bila ada masalah, ada yang kelar tangan bunuh diri. Bila ada masalah, ada yang jatuh tak bangkit kembali. Ini semua kerana, Allah SWT tidak dihadirkan dalam segenap kehidupan insani.


Sememangnya, orang-orang yang melupakan Allah SWT, dia akan Allah SWT lupakan.


“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” Surah At-Taubah ayat 67.


Penutup: Dia yang tidak punya siapa-siapa, ada Allah SWT


Sebab itu, kita perlu melihat semula akan perkara ini. Hal ini kerana, kesedaran dan kewarasan adalah satu perkara yang amat penting dalam mengekalkan ketabahan dan kecekalan kita. Ramai telah tersungkur dan gagal apabila dilambung ujian. Jangan kita pula yang menjadi yang seterusnya.


Mari. Ubat sudah berada di hadapan kita. Bahkan, selama ini memang penawar ini wujud bersama kita. Kita sahaja yang tidak mengambilnya.


Kita koreksi kembali hubungan kita dengan Allah SWT.


Dan menjadi manusia yang tabah dan cekal.


Hatta kalau nanti kita tiada siapa-siapa di sisi kita, kepercayaan bahawa wujudnya Allah bersama kita itu membuatkan kita mampu membelah segala cabaran dan dugaan di atas dunia. Hingga mampu menjejak syurgaNya.


http://langitilahi.com/2451/motivasi-dia-yang-tiada-siapa-siapa-punya-allah-swt/comment-page-1/#comment-2724

Jumaat, 1 Julai 2011

Berkongsi ilmu....

Bismillah....


Lama benor ana update blog(3,4 hr ja)...he...Alhamdulillah, kali ini ana kongsikan sedikit ilmu yang diperoleh semasa daurah pagi tadi dan sedikit perkongsian ilmu bersama- sama adik2 di matrik kedah tadi..Alhamdulillah...


PAGI
Hadis yang ana copy and paste tadi yakni hadis 19 adalah pengisian yang ana dapat dari Kak Cik Mah....seorang ahli yang lama dalam ISMA ini...Tajuk daurah kali ini-Allah Bersamamu....


Betapa sebenarnya kita perlu menyedari bahawa Allah sentiasa bersama hamba- hamba-Nya dan perlunya kita bermujahadah(CAKAP MEMANG MUDAH, BUAT PERLU BERMUJAHADAH)


"Jagalah Allah nescaya Allah menjagamu...."InsyaAllah,hadis berkenaan menunjukkan keyakinan kita kepada Allah atas segala sesuatu, memenuhi hak2 Allah(^_^) serta peri pentingnya bertakwa kepada ALLaH walau di mana kita berada..Mudah2an kita membaca hadis tersebut dengan hati, InsyaAllah...



HADIS 18

عَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْ ل
الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ: اتَّقِ الله حَيْثُمَا آُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّا سَ
بِخُلُقٍ حَسَنٍ)) رواه الترمذي وقال حدیث حسن، وفي بعض النسخ حسن صحيح.

Daripada Abu Zar Jundub ibn Junadah dan Abu Abdul Rahman Mu'az ibn Jabal, r.a., رضي الله عنهما
daripada Rasulullah SAW, bahawa Baginda bersabda:
Bertaqwalah engkau kepada Allah walaupun di mana engkau berada, dan iringilah kejahatan dengan
kebaikan, nescaya ia akan menghapuskan kejahatan tersebut dan bergaullah sesama manusia dengan
budi pekerti yang baik.
Hadis riwayat al-lmam al-Tirmizi. Beliau berkata: la adalah Hadis Hasan. Dalam setengah manuskrip,
ia adalah Hadis Hasan Sohih.


Takwa:-melakukan segala suruhan dan tinggalkan segala larangan-Nya
           :-tinggalkan perkara yg halal tapi makruh atau syubhah
           :-menjaga jiwa dari perbuatan dosa..


Berusahalah kita untuk meninggalkan perkara yg sia2 yang kita lakukan terutama meniti cuti di rumah ni, terutama dosa2 kecil....krn bimbang ia akan menjadi dosa besar dan menjadi aktiviti lazim kita...


Malunya diri ini dalam berkata2, bimbang diri ini x serupa bicara....Mudah2an Allah memberi hidayah dan pengharapan baru kepada kita untuk memperbaiki diri dan mengenali Allah dengan sebenar2nya...


View Image


Bergerak dan terus bergerak untuk mencari redha-Nya..


PTG


Perkongsian dengan adik2..Kak Sya berkongsi pembacaan artikel mengenai Isra' dan Mi'raj. Dan perkongsian mengenai Hakikat Ibadah-tajuk yg murabbiyah ana pernah beri...


    Dapat disimpulkan, hakikat ibadah kita sama ada khusus atau umum sebenarnya mengharapkan lahirnya perasaan merasa banyaknya nikmat Allah dan merasa keagungan Allah. Contohnya bersolat, Bukan sekadar memenuhi kewajipan bersolat itu sendiri atau menggerakkan anggota badan, sebaliknya menggerakkan juga hati, merasa keagungan Allah, bersyukur merasa muraqabatullah di saat berada di dalam solat dan di luar solat...Moga kita berada dalam kalangan org2 yang khusyuk.....


Dan kalau kta hitung memang xkan putus nikmat yg Allah beri, anggota badan kita sendiri yang cukup sempurna, oksigen, nikmat Islam yang Allah beri, pemandangan alam yg tiada cacat cela,...,.......(Banyak bukan??) Mudah2an kita berusaha sebaik mungkin untuk melahirkan rasa kesyukuran kita kepada Allah...

" Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar2 Maha Pengampun, Maha Penyayang." 
                                                                                                       (an-Nahl:18)

View Image


Allah Ajarkan Membawa Jiwa MenghadapNya

Kita terdiri dari jasad dan jiwa (ruh). Kita sebenarnya adalah jiwa itu (ruh) yang nantinya akan dipanggil Allah kerana ianya adalah milik Allah dan pasti akan satu hari dipanggil Allah.
Setiap kali kita solat, Allah memanggil jiwa kita untuk datang kepadaNya, bukan sekadar jasad. Tapi sekian lama yang datang menghadap Allah hanyalah jasad kita tetapi tidak jiwa kita. Justeru kita harus belajar untuk datang kepada Allah dengan jiwa kita bukan sekadar jasad. Kita harus belajar mengaktifkan jiwa kita.
Pada hakikatnya selama ini jiwa kita telah sering kali juga kita aktifkan. Contohnya ketika menghadapi musibah, bayangkan bagaimana jiwa kita menghadap Allah. Seluruhnya kita hadapkan ke Allah, tidak memikirkan yang lain, kita total memohon pada Allah. Ketika kita membawa kereta (setelah bertahun-tahun pandai membawa kereta), jiwa kita yang mengendalikannya. Bayangkan bagaimana kita mengelak sesuatu ketika memutarkan stering, kita mengelakkan dengan jiwa kita terlebih dahulu.
Bayangkan pula ketika kita bersukan dulu, kita bermain bola atau bola jaring atau acara olahraga lumba lari. Cuba bayangkan betapa jiwa kita yang berlari ke sana ke sini dan badan kita hanya ikutkan saja. Kita mengikut jiwa kita selama ini. Ketika kita mendapat keputusan yang baik dalam pelajaran atau mendapat kenaikan pangkat, jiwa kita bahagia dan seluruh tubuh kita akan ikut bahagia. Ketika kita marah, jiwa kita tak tertahan rasanya dan badan kita akan ikut marah (ada kalanya sampai ada yang menggeletar kerana kemarahan). Itu antara contoh-contoh bagaimana kita sudah pernah dan biasa mengaktifkan jiwa.
Hakikatnya kita semua punya jiwa dan kita sudah biasa mengaktifkan jiwa kita. Justeru mari kita bawa jiwa kita mengadap Allah ketika solat. Hadapkan wajah ke Allah (mengadap kiblat).Jasad sudah siap, sekarang siapkan jiwa untuk berjalan menujuNya. Bawa jiwa kita ke Allah, tinggalkan jasad ini, dan perlahan-lahan bawa jiwa ke Allah. Kita akan dapat merasakan gerakan dari dalam, ada yang bergerak, menuju yang tak terbatas. Kerana kita belum mahir, lakukan dengan perlahan-lahan dan rasakan ada gerakan dari dalam. Bawa jiwa itu menujuDia Yang Tak Terbatas .
Sekarang takbirlah , Allahuakbar . tangan hanya sampai di dada (untuk perempuan) tapi jiwa terus mikraj ke Allah. Perlahan-lahan bacalah doa iftitah, bacalah dengan jiwa kita, bacaan dari jiwa lain dari bacaan hanya dari mulut. Sambung dengan al fatihah dan ayat yang mudah sambil jiwa terus bergerak ke Allah (jiwa dituju ke Allah).
Seterusnya bawa jiwa untuk tunduk dan rukuk, biarkan dia turun untuk rukuk dan badan akan mengikut saja. Lakukan dengan perlahan dan rasakan ada gerakan yang membawa jasad kita untuk rukuk. Kita rukukkan jiwa kita, selama ini hanya jasad saja kita bawa untuk rukuk. Setelah kita jatuh untuk rukuk, perlahan-lahan letakkan tangan di atas lutut dan bawa jiwa terus ke Allah dengan dalamnya, terus, terus, terus jangan berhenti, terus ke Allah dan kita akan dibawa ke satu daerah yang sangat dalam, luas tak terbatas.
Bangkitlah untuk iktidal dan bangkit juga dengan jiwa, jiwa akan bangkit dulu dan badannya akan ikut kemudian, serahkan segala pujian ke Allah (jiwa yang menyerahkan pujian ke Allah)
Kemudian bawalah jiwa kita untuk sujud ke Allah, dia akan segera untuk sujud, belum jasad kita sampai ke bawah, jiwa sudah sampai. Dan terus sujud, dengan dalamnya, terus bawa jiwa untuk sujud sehingga kita akan rasa ada gerakan ke bawah sehingga merasa menembus bumi hingga dalam yang luas tak terbatas. Rasakan ketenangan yang dialirkan Allah ke dalam jiwa ketika itu, biarkan, rasakan, nikmatilah keindahan sujud itu. Tidak mahu bangun dari sujud? Ya begitulah nikmatnya yang tak terperi. Teruskan sujud dengan dalam. Kemudian dengan jiwa itu pujilah Allah dengan bacaan subhanarabbiyal 'ala wabihamdi.
Bangun dari sujud dan bawa jiwa untuk duduk, jiwa akan duduk dengan sopan dan akan terus rasa dilihat Allah tanpa hentinya. Tidak perlu kita bersusah payah untuk merasa dilihat Allah. Bila kita pergi ke Allah dengan jiwa kita, automatiknya akan rasa jiwa dilihat Allah kerana yang merasa itu adalah jiwa dan dia sedang menuju ke Allah yang luas tak terbatas dan yang yang sangat menenangkan jiwa apabila bertemuNya. Tidak perlu dipaksa untuk sedar ke Allah kerana yang sedar itu adalah jiwa dan apabila jiwa itu di bawah ke Allah pasti dia sedar ke Allah sebab dia sedang ke Allah.
Bacalah bacaan duduk antara dua sujud dengan jiwamu, kemudian bawa jiwa itu sujud kembali dan duduk tahiyat akhir bagi memberikan penghormatan tertinggi kepada Allah dansalam hormat buat Rasulullah saw, para sahabat dan para solihin.
Diakhiri dengan salam juga dengan jiwamu.
Sahabat yang dirahmati Allah, jiwa yang sentiasa ke Alla itulah jiwa yang mengingati Allah, maka di berikan ketenangan dan dilimpahi cahaya Allah yang akan membimbing jiwa itu. Jiwa yang tidak bisa melihat, tapi dibimbing oleh Yang Maha Melihat.
Bagaimana untuk membawa jiwa total ke Allah?. Ingatilah bagaimana Siti Hajar membawa jiwanya ke Allah apabila sudah tidak ada pergantungan pada suami, pada air, pada makanan, atau pada sesiapa saja. Hanya ada Allah dan jiwa itu di bawa total menyerah ke Allah.
Apabila terasa tidak sedap di dalam jiwa (tidak tenang), berhenti dan bawa jiwa ke Allah untuk bertanyakan. Allah akan mencampakkan ketenangan ke dalam jiwa itu dan kemudian insyaAllah di berikan petunjuk.

Alhamdulillah